Minggu, 11 November 2007

Dengarkan Nasihat Ibumu, Nak
Karya : Nuurul Fajari Fadhillah*
Hai, namaku Dullah, Abdullah Abubakar kepanjangannya. Umurku 10 tahun dan bersekolah di SDN Rawa Barat 05 Pagi. Sebenarnya aku mempunyai kakak, tetapi sekarang kakakku telah tiada. Ia meninggal 3 tahun lalu pada usia yang ke 13 tahun. Mungkin kalau dia hidup, sekarang sudah SMA (Sekolah Menengah Atas). Jadilah sekarang aku anak satu-satunya.
Meski aku anak satu-satunya aku tidak manja dan tidak dimanja. Bunda juga sering menasihatiku. Bunda pernah berkata kalau minum harus dihabiskan. Kalau bersisa sayang, mubazir. Perkataan Bunda hanya masuk kuping kanan, keluar kuping kiri alias hanya kuabaikan.
Sampai suatu saat, minumku tidak habis. Karena takut dimarahi Bunda, aku buang di semak-semak. Aku tidak sadar kalau di semak-semak ada ayam. Niatku mau menyiram semak-semak tetapi aku salah. Ternyata yang tersiram adalah ayamnya.
Lalu aku pulang dengan santai, karena tidak sadar. Waktu aku melihat ke belakang, ternyata ayam mengejarku. Ayam itu marah karena tersiram air dan mengejarku.
Akhirnya aku kejar-kejaran dengan ayam itu. Aku baru sadar itu akibat dari membuang air sisa sekolahku itu. Tetapi sekarang aku bisa berbuat apa ? Sudah terlambat.
Sampai di depan rumah, aku dipatok ayam. Sampai di dalam rumah aku menangis. Bunda aneh melihat aku menangis. Lalu Bunda bertanya : kenapa kamu menangis Dullah ?
Lalu aku bercerita apa yang baru kualami. Bunda lalu berkata, makanya dengarkan nasihat Bunda, Nak. Lalu aku segera meminta maaf pada Bunda. Untung Bunda memaafkanku. Sejak saat itu aku selalu mendengarkan pesan Bunda. Tidak seperti dulu, masuk kuping kanan, keluar kuping kiri, alias aku abaikan.

Depok, Oktober 2005

Tidak ada komentar: